Tulisan ini dipostkan ulang dari :
http://lidya1859.blogspot.com/2010/05/isbn-10-dan-isbn-13.html

ISBN adalah singkatan International Standard Book Number. Sesuai namanya, ISBN berlaku internasional, dengan kata lain, (seharusnya) tidak akan ada nomor yang sama di seluruh dunia. Berbeda dengan judul, sangat mungkin ada (bahkan banyak) judul yang sama (apalagi judul buku pelajaran). Mungkin, peran strategis ISBN bisa disamakan dengan sidik jari dan DNA pada manusia.

Pada era digital, peran ISBN menjadi semakin penting. Bayangkan, saat kita memesan buku secara online, akan banyak kemungkinan salah order disebabkan kesamaan judul buku. Semua kesalahan tentu akan terbeban pada kita karena kitalah yang memasukkan aplikasi. Jika buku tersebut ber-ISBN dan kita mengetahui ISBN-nya, tentu menjadi gampang. Misalnya, kita ingin mencari buku Menguasai Adobe InDesign CS2 yang diterbitkan Penerbit Andi, kita tinggal memesan buku Menguasai Adobe InDesign CS2 dengan ISBN 979-763-392-6.

Keuntungan lain adanya ISBN adalah sebagai sarana promosi buku. Informasi ISBN ini disebarluaskan oleh badan nasional yang berada di Jakarta dan badan internasional yang berlokasi di Berlin. Badan Nasional ISBN tersebut adalah Perpusnas RI yang bertugas membuat ISBN dan menyebarkannya melalui berbagai terbitan, Bibliografi Nasional Indonesia (BNI), direktori, dan Majalah Berita ISBN.

ISBN terdiri dari 10 digit nomor dengan urutan penulisan adalah kode negara-kode penerbit-kode buku-no identifikasi. Namun, mulai Januari 2007 penulisan ISBN mengalami perubahan mengikuti pola EAN, yaitu 13 digit nomor. Perbedaannya hanya terletak pada tiga digit nomor pertama ditambah 978. Jadi, penulisan ISBN 13 digit adalah 978-kode negara-kode penerbit-kode buku-no identifikasi.

Validasi ISBN 10 Angka

Peraturan dari international ISBN Agency mengatakan bahwa ISBN sepuluh angka memiliki check digit pada angka terakhir. Angka dari ISBN memiliki rentang 0 sampai 10 yang berarti penggunaan huruf di luar angka harus dipakai untuk menyatakan angka 10. Aritmetika modular digunakan untuk menghitung check digit dengan modulo 11. Setiap 9 angka pertama dikalikan berturut-turut dengan angka 10 hingga 2, lalu dihitung jumlahnya. Setelah itu dioperasikan dengan modulo 11.Hasilnya harus sama dengan 11 dikurang check digit. Atau dapat juga dikatakan hasil penjumlahan tadi jika dijumlahkan dengan check digit menghasilkan angka 11.

Sebagai contoh, perhatikan operasi dibawah ini.

s = 0×10 + 3×9 + 0×8 + 6×7 + 4×6 + 0×5 + 6×4+ 1×3 + 5×2
  = 0 + 27 + 0 + 42 + 24 + 0 + 24 + 3 + 10
  = 130

130 / 11 = 11 sisa 9
11 - 9 = 2

Jadi check digit harus 2, sehingga kode ISBN = 0-306-40615-2.

Kesalahan umum yang sering terjadi pada ISBN yaitu penulisan atau pengetikan kode,hal ini karena kedekatan angka pada penulisannya. Namun karena sebelas merupakan angka primer, metode ISBN check digit hampir memastikan kalau kesalahan tadi dapat dideteksi. Namun jika ada kesalahan yang tidak terdeteksi, maka buku akan dipersoalkan memiliki ISBN yang tidak valid.

Validasi ISBN 13 Angka

Sejak januari 2007, peraturan ISBN diubah besar-besaran. ISBN kini memiliki tiga belas angka dan menggunakan perhitungan yang berbeda. Namun format perhitungannya tidak jauh beda dari peraturan sebelumnya. Dua belas angka pertama masing – masing dikalikan dengan angka 1 dan 3 secara bergantian. Lalu jumlah dari hasil perkalian dioperasikan dengan modulo 10. Setelah itu, angka 10 dikurangkan dengan hasil operasi modulo tadi, dan didapatkan check digit dari ISBN.

Sebagai contoh, ISBN-13 check digit dari 978-0-306-40615-? dioperasikan seperti yang di bawah ini:

s = 9×1 + 7×3 + 8×1 + 0×3 + 3×1 + 0×3 + 6×1 + 4×3 + 0×1 + 6×3 + 1×1 + 5×3
  = 9 + 21 + 8 + 0 + 3 + 0 + 6 + 12 + 0 + 18 + 1 + 15
  = 93

93 / 10 = 9 sisa 3
10 – 3 = 7

Didapatkan check digit 7,dan ISBN lengkapnya 978-0-306-40615-7.